@2025 Official Blog of Grab Joob
Satu Menit Baca

Tidak semua kandidat berkualitas sedang aktif mencari pekerjaan. Ada banyak profesional yang sebenarnya sudah bekerja dan merasa cukup nyaman dengan pekerjaannya, tetapi masih terbuka jika mendapatkan tawaran karier yang lebih menarik.

Kelompok inilah yang dikenal sebagai kandidat pasif atau passive candidate.

Berbeda dari pencari kerja aktif, kandidat pasif tidak rutin membuka portal lowongan atau mengirim CV. Karena itu, perusahaan tidak bisa hanya memasang iklan lowongan lalu menunggu mereka datang.

Di dunia, ada sekitar 70% tenaga kerja global termasuk dalam kelompok kandidat pasif. Artinya, ada kumpulan talenta yang sangat besar yang bisa dijangkau perusahaan melalui strategi sourcing yang tepat.

Lalu, bagaimana cara merekrut kandidat pasif secara efektif?

1. Bangun Branding Perusahaan yang Menarik

Sebelum membalas pesan recruiter, kandidat biasanya akan mencari tahu terlebih dahulu mengenai perusahaan. 

Mereka mungkin membuka website karier, LinkedIn, membaca review karyawan, melihat budaya kerja, atau mencari informasi mengenai benefit dan kesempatan pengembangan karier.

Karena itu, employer branding menjadi salah satu fondasi utama untuk menarik kandidat pasif.

Salah satunya adalah dengan menjelaskan secara konkret bagaimana perusahaan mendukung pengembangan karier, bagaimana tim bekerja, seperti apa gaya kepemimpinan, hingga apa yang membuat perusahaan berbeda dari kompetitor.

Employer branding yang autentik bisa membuat kandidat mulai tertarik bahkan sebelum recruiter menghubungi mereka.

2. Manfaatkan AI untuk Mencari Kandidat

Teknologi AI sekarang juga semakin banyak digunakan dalam proses recruitment.

AI dapat membantu recruiter menyaring profil berdasarkan pengalaman, skill, industri, atau kecocokan kandidat dengan posisi tertentu. Cara ini tentunya jauh lebih cepat dibandingkan mencari profil kandidat secara manual satu per satu.

Glassdoor mencatat bahwa adopsi AI dalam pekerjaan HR meningkat cukup cepat. Namun, teknologi sebaiknya digunakan untuk membantu proses pencarian, bukan menggantikan komunikasi manusia.

Setelah kandidat ditemukan, recruiter tetap perlu memahami profil mereka dan membuat pendekatan yang personal.

3. Aktifkan Program Employee Referral

Karyawan yang sudah bekerja di perusahaan bisa menjadi salah satu sumber kandidat terbaik.

Mereka biasanya memiliki koneksi dengan mantan rekan kerja, teman kuliah, atau profesional lain yang memiliki kemampuan sesuai kebutuhan perusahaan. Program employee referral juga memiliki keunggulan dari sisi kepercayaan.

Seseorang mungkin mengabaikan pesan recruiter yang tidak dikenal, tetapi akan lebih tertarik mendengar peluang kerja ketika rekomendasinya datang dari teman atau mantan kolega.

Agar program referral efektif, perusahaan sebaiknya membuat prosesnya sesederhana mungkin. Misalnya dengan menginformasikan posisi yang sedang dibutuhkan, karakter kandidat yang dicari, dan berikan insentif jika memang memungkinkan.

4. Cari Kandidat dari Berbagai Platform

LinkedIn memang sangat populer untuk sourcing kandidat, tetapi bukan berarti semua kandidat terbaik berada di sana.

Perusahaan bisa mencari kandidat melalui berbagai kanal seperti database CV, komunitas profesional, asosiasi industri, webinar, konferensi, jaringan alumni, hingga komunitas khusus sesuai profesi.

LinkedIn sendiri menyebut bahwa kandidat yang tidak sedang aktif mencari pekerjaan tetap dapat dijangkau jika perusahaan menggunakan pendekatan yang tepat dan membangun hubungan terlebih dahulu.

Untuk posisi teknologi, misalnya, komunitas developer mungkin lebih efektif. Sedangkan untuk bidang kreatif, portfolio platform atau komunitas industri bisa menjadi sumber kandidat yang lebih relevan.

5. Buat Pesan yang Personal

Ini menjadi salah satu bagian terpenting dalam cara merekrut kandidat pasif. Hindari mengirim pesan massal seperti:

“Halo, kami melihat profil Anda cocok dengan posisi yang sedang kami buka.”

Pesan yang terlalu umum seperti ini mudah diabaikan dan dianggap spam. Sehingga rawan diblokir oleh target. Sebelum menghubungi kandidat secara personal, luangkan waktu untuk melihat pengalaman mereka. Sebutkan proyek, skill, pencapaian, atau pengalaman tertentu yang membuat kamu tertarik.

Setelah itu, jelaskan secara singkat mengapa posisi yang ditawarkan mungkin relevan dengan perjalanan karier mereka. Jadi, jangan langsung mengirim deskripsi pekerjaan yang panjang. Kamu bisa mulai dengan percakapan santai terlebih dahulu.

SHRM juga menekankan bahwa kandidat pasif merupakan profesional yang tidak aktif mencari pekerjaan tetapi masih mungkin mempertimbangkan peluang yang tepat. Karena itu, membangun hubungan menjadi bagian penting dari proses recruitment.

Kata Siapa Recruitment Itu Hanya Sebatas Menunggu Lamaran?

Mengandalkan kandidat yang aktif melamar saja bisa membuat perusahaan kehilangan banyak talenta potensial dari kandidat pasif. Strategi sourcing yang efektif membutuhkan kombinasi employer branding, teknologi, referral, berbagai kanal pencarian, dan komunikasi personal.

Dan yang paling penting, jangan memperlakukan kandidat pasif hanya sebagai nama dalam database recruitment. Melainkan sebagai seorang individu berharga yang punya potensi memajukan perusahaan.

Mulai dengan membangun hubungan terlebih dahulu. Ketika perusahaan memahami tujuan karier kandidat dan menawarkan peluang yang benar-benar relevan, kemungkinan mereka tertarik untuk berdiskusi ke posisi yang kamu tawarkan akan jauh lebih besar.

Dengan menerapkan cara merekrut kandidat pasif secara konsisten, perusahaan bisa memperluas talent pool sekaligus meningkatkan peluang menemukan orang yang tepat untuk posisi yang sulit diisi.