Artificial intelligence atau AI sekarang ini bukan hanya menjadi teknologi pelengkap lagi. AI mulai mengubah cara perusahaan merekrut kandidat, mengelola pekerjaan, membuat keputusan, hingga mengembangkan kemampuan karyawan.
Perubahan ini tentunya berpengaruh secara langsung ke bagaimana tim Human Resources berperan.
HR bukan hanya perlu memahami bagaimana AI digunakan, tetapi juga membantu perusahaan memastikan teknologi tersebut diterapkan secara aman, adil, dan tetap berorientasi pada manusia.
Lalu, apa saja yang perlu dilakukan HR untuk menghadapi perkembangan AI di tempat kerja?
1. Menjelaskan Alasan Manfaat Penting AI bagi Perusahaan
Langkah pertama adalah membantu karyawan memahami alasan perusahaan menggunakan AI. Jangan hanya memperkenalkan tools baru lalu berharap semua orang langsung menerimanya.
Karyawan mungkin memiliki kekhawatiran tentang perubahan pekerjaan, keamanan data, atau kemungkinan posisi mereka tergantikan. Oleh karena itu, HR bersama pimpinan perlu menjelaskan tujuan penggunaan AI secara terbuka. Misalnya, AI digunakan perusahaan untuk mengurangi pekerjaan administratif, mempercepat proses analisis, atau membantu menyelesaikan pekerjaan repetitif. Dengan begitu kekhawatiran karyawan akan berkurang.
2. Buat Aturan Penggunaan AI yang Jelas
Menggunakan AI tanpa aturan bisa menimbulkan risiko tentang hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya, karyawan mungkin memasukkan data rahasia ke platform AI publik, menggunakan hasil AI tanpa pengecekan, atau mengambil keputusan penting hanya berdasarkan rekomendasi sistem.
Disinilah HR berperan, dimana salah satu perannya dalam implementasi AI adalah membantu membuat kebijakan bersama tim IT, legal, dan manajemen.
Aturan tersebut bisa menjelaskan tools AI apa yang boleh digunakan, jenis data apa yang tidak boleh dimasukkan, bagaimana hasil AI harus diverifikasi, dan siapa yang bertanggung jawab ketika AI digunakan dalam proses kerja.
Untuk proses HR seperti screening kandidat, kebijakan ini semakin penting karena perusahaan tetap harus memperhatikan fairness, privasi, dan lain-lainnya yang biasanya bersifat bias.
3. Dorong Karyawan untuk Bereksperimen secara Aman
Seminar tidak dapat memastikan karyawan bisa menggunakan AI dengan lancar. Karyawan perlu mendapatkan kesempatan untuk mencoba teknologi tersebut dalam pekerjaan sehari-hari, tetapi dengan ketentuan masih dalam batas yang aman.
Perusahaan bisa memulai menggunakan AI dari proyek kecil, misalnya menggunakan AI untuk merangkum meeting, mencari ide awal, menyusun draft dokumen, atau membantu pekerjaan administratif.
Eksperimen dengan AI ini sebaiknya menjadi bagian dari budaya perusahaan. Perusahaan juga dapat menyediakan sumber belajar, memasukkan kemampuan AI dalam pengembangan kompetensi, dan menyediakan anggaran untuk proyek percontohan.
4. Otomatisasi dan Upskilling Wajib Ditingkatkan Secara Berdampingan
Kesalahan yang perlu dihindari adalah melihat AI hanya sebagai cara untuk mengurangi pekerjaan manusia. Padahal walau pada kenyataannya AI itu bisa mengotomatisasi beberapa tugas manusia, perusahaan tetap perlu “operator” dari AI tersebut yang mampu menggunakan, mengevaluasi, dan mengarahkan teknologi tersebut secara baik dan benar.
World Economic Forum dalam Future of Jobs Report 2025 menyebutkan bahwa 77% perusahaan yang disurvei berencana melakukan reskilling dan upskilling agar karyawan dapat bekerja lebih efektif bersama AI.
Karena itu, HR perlu memetakan skill yang dibutuhkan. Pelatihannya tidak harus selalu bersifat teknis. Karyawan juga perlu meningkatkan critical thinking, analytical thinking, komunikasi, kreativitas, dan problem solving.
5. Selalu Melibatkan Karyawan dalam Transformasi AI
Implementasi AI akan lebih sulit jika karyawan merasa teknologi tersebut hanya dipaksakan dari atas.Tugas HR disini bisa dengan melakukan survei, diskusi kelompok, atau sesi sharing untuk mengetahui pekerjaan apa yang paling menyita waktu dan area mana yang berpotensi dibantu AI.
Karyawan yang sudah berhasil menggunakan AI juga dapat membagikan workflow mereka kepada rekan kerja. Cara seperti ini membuat proses belajar terasa lebih praktis karena contoh penggunaannya berasal dari pekerjaan nyata.
Pendekatan ini membantu mengubah persepsi bahwa AI adalah ancaman menjadi alat yang dapat meningkatkan kemampuan kerja.
Manusia Tanpa AI Sekarang, Bagaikan Mobil Tanpa Supir
Microsoft Work Trend Index 2025 menunjukkan bahwa 97% pemimpin bisnis di Indonesia menilai 2025 sebagai momen penting untuk meninjau kembali strategi dan operasional perusahaan akibat perkembangan AI.
Namun, transformasi teknologi tidak akan berhasil hanya dengan membeli tools terbaru. Perusahaan membutuhkan kebijakan, keterampilan, budaya belajar, dan komunikasi yang tepat. Di sinilah peran AI dalam HR menjadi semakin penting.
Tujuannya bukan membuat manusia bersaing dengan AI, melainkan membangun cara kerja baru di mana teknologi membantu pekerjaan yang tepat, sementara manusia tetap memegang peran penting dalam kreativitas, empati, pertimbangan, dan pengambilan keputusan.
Bayangkan saja sebuah mobil secanggih apapun mobilnya tapi tidak ada supir yang tidak mengendalikan dan menjalankannya hanya akan menjadi sebuah kendaraan yang berdiam di satu tempat saja.