Pengalaman masa kecil bisa membentuk cara seseorang melihat diri sendiri, orang lain, dan situasi yang terasa mengancam. Dalam beberapa kasus, pengalaman yang sulit atau traumatis juga dapat memengaruhi bagaimana seseorang bereaksi di tempat kerja ketika sudah dewasa.
Dalam beberapa kasus, dampaknya sendiri tidak selalu terlihat jelas. Ada orang yang menjadi sangat takut melakukan kesalahan, sulit berkata tidak, menghindari konflik, atau terlalu sering memikirkan kemungkinan buruk.
Yang harus menjadi catatan dan penting diingat bahwa setiap orang bereaksi berbeda. Tidak semua kecemasan, konflik kerja, atau kebiasaan people-pleasing otomatis berarti seseorang memiliki trauma masa kecil.
Lalu, seperti apa dampak trauma masa kecil pada karier dan apa yang bisa dilakukan untuk menghadapinya?
1. Terlalu Khawatir Akan Situasi yang Tidak Pasti
Email singkat dari atasan seperti “kita perlu bicara” bisa terasa biasa bagi sebagian orang. Namun, bagi orang yang terbiasa menghadapi situasi tidak aman di masa lalu, pesan yang ambigu bisa memicu kekhawatiran berlebihan sehingga menyebabkan anxiety berlebih juga.
Di satu sisi, mungkin langsung ada yang berpikir bahwa dirinya melakukan kesalahan atau akan mendapatkan kabar buruk, padahal belum tentu demikian.
Saat pikiran seperti ini muncul, coba berhenti sejenak dan pisahkan antara fakta dengan asumsi. Tanyakan pada diri sendiri: “Informasi apa yang benar-benar saya miliki saat ini?” Cara sederhana ini dapat membantu melihat situasi dengan perspektif yang lebih seimbang.
2. Kesulitan dalam Menghadapi Konflik yang Terjadi di Tempat Kerja
Cara kita menghadapi konflik juga dapat dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya.
Ada orang yang bereaksi sangat cepat ketika merasa tidak dihargai. Ada yang memilih diam dan menahan ketidaknyamanan. Ada pula yang merasa “blank” ketika harus berbicara dalam situasi tegang.
Masalahnya, konflik yang terjadi dalam pekerjaan itu tidak selalu bisa dihindari. Ada banyak konflik seperti pendapat mengenai proyek, pembagian tugas, atau feedback merupakan sebuah hal yang normal.
Diurut mulai dari konflik yang paling kecill. Misalnya, sampaikan ketidaksetujuan dengan kalimat yang jelas dan fokus pada masalah, jangan malah menyerang orangnya.
3. Terlalu Sering Menyenangkan Orang Lain
People-pleasing bisa terlihat seperti sifat positif karena seseorang tampak mudah membantu dan jarang menolak permintaan.
Namun, jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini dapat membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi tidak sehat. Kamu bisa menerima terlalu banyak tugas, sulit meminta bantuan, atau ada rasa bersalah ketika harus berkata tidak.
Solusinya adalah dengan mengevaluasi kapasitas sebelum menerima permintaan baru. Kalimat sederhana seperti, “Saya bisa membantu, tetapi pekerjaan ini baru bisa saya selesaikan besok,” tetap profesional sekaligus membantu menjaga batasan.
4. Kenali Pola Pikiran, Emosi, dan Perilaku
Salah satu strategi yang bisa kamu terapkan adalah memperhatikan hubungan antara pikiran, emosi, dan perilaku.
Misalnya, kamu mendapat feedback dari atasan. Pikiran pertama yang muncul adalah, “Saya pasti tidak kompeten.” Pikiran tersebut kemudian menimbulkan rasa takut dan membuat kamu memilih menghindari atasan.
Dengan mencatat pola seperti ini, kamu bisa mulai mempertanyakan apakah kesimpulan tersebut benar-benar sesuai fakta atau hanya merupakan reaksi otomatis.perlu dicatat, strategi ini bukan bertujuan untuk menghilangkan emosi negatif, melainkan memahami respons diri sebelum mengambil keputusan dan tindakan.
5. Selaraskan Karier dengan Nilai yang Penting
Selain mengenali pemicu, merupakan sebuah hal yang penting juga memahami apa yang sebenarnya kamu cari dari pekerjaan.
Apakah kamu menghargai kreativitas, stabilitas, kesempatan belajar, kolaborasi, atau kebebasan? Ketika pekerjaan sehari-hari lebih selaras dengan nilai pribadi, kamu bisa memiliki arah yang lebih jelas dalam mengambil keputusan karier.
Ini dapat membantu membedakan antara masalah yang masih bisa diselesaikan dan lingkungan kerja yang memang tidak cocok.
Profesional Selalu Ada untuk Membantu, Jangan Ragu untuk Meminta Bantuan
Penelitian terbaru menemukan bahwa adverse childhood experiences atau pengalaman buruk pada masa kecil berhubungan dengan risiko masalah pekerjaan saat dewasa, termasuk pengangguran dan pekerjaan yang lebih tidak stabil. Namun, hubungan tersebut kompleks dan dipengaruhi banyak faktor lain.
WHO juga menegaskan bahwa lingkungan kerja yang sehat dapat mendukung kesehatan mental. Sebaliknya, beban kerja berlebihan, diskriminasi, kontrol kerja yang rendah, dan ketidakamanan pekerjaan dapat menjadi risiko bagi kesehatan mental.
Jika pengalaman atau reaksi emosional terus mengganggu pekerjaan, hubungan dengan rekan kerja, tidur, atau aktivitas sehari-hari, berbicara dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental yang kompeten dapat menjadi pilihan.
Dengan memahami dampak trauma masa kecil pada karier dan tidak tentang menyalahkan masa lalu. Tujuannya adalah mengenali pola yang mungkin sudah tidak membantu, lalu secara perlahan membangun cara merespons situasi kerja dengan baik.