@2025 Official Blog of Grab Joob
Satu Menit Baca

19 Juta lapangan pekerjaan yang dijanjikan tak kunjung tiba. Fenomena pengangguran di banyak kalangan khususnya kalangan Gen Z belakangan ini makin sering jadi pembahasan. 

Di satu sisi, Indonesia sedang memasuki masa bonus demografi, di mana jumlah usia produktif jauh lebih banyak dibanding usia nonproduktif. Tapi di sisi lain, jutaan anak muda justru kesulitan mendapatkan pekerjaan karena banyak faktor seperti salah satunya faktor ekonomi dan geopolitik global.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) bahkan menunjukkan jutaan Gen Z masuk kategori NEET (Not in Employment, Education, or Training). Artinya, mereka tidak bekerja, tidak sekolah, dan juga tidak mengikuti pelatihan. Kondisi ini tentu bikin banyak job seeker merasa cemas tentang masa depan karir mereka.

Persaingan kerja yang makin ketat, skill yang belum sesuai kebutuhan industri, sampai minimnya pengalaman kerja jadi beberapa alasan kenapa banyak Gen Z sulit mendapatkan pekerjaan. Tapi tenang, situasi ini bukan berarti tidak ada harapan. Justru sekarang waktunya para job seeker lebih adaptif dan pintar membaca peluang.

Ijazah Bukanlah Senjata Andalan Kamu

Masih banyak orang berpikir kalau ijazah adalah tiket utama untuk mendapatkan pekerjaan. Padahal di era seperti sekarang, perusahaan lebih fokus pada skill dan kemampuan nyata.

Banyak recruiter mulai mencari kandidat yang punya kemampuan praktis seperti digital marketing, desain grafis, data analysis, public speaking, coding, hingga kemampuan komunikasi yang baik. Bahkan beberapa perusahaan lebih tertarik pada portofolio dibanding nilai akademik.

Karena itu, penting banget untuk terus upgrade skill. Kamu bisa ikut kursus online, webinar, bootcamp, atau pelatihan gratis yang sekarang sudah banyak tersedia di internet. Skill yang relevan dengan kebutuhan industri akan membuat peluang diterima kerja jadi lebih besar.

Personal Branding Adalah Artileri Pendukung

Di zaman media sosial, personal branding punya pengaruh besar untuk karir. Banyak recruiter sekarang mencari kandidat lewat platform seperti LinkedIn, bahkan sebelum memanggil interview.

Coba mulai bangun citra profesional di media sosial. Tidak harus selalu formal, tapi tunjukkan kemampuan dan minatmu di bidang tertentu. Misalnya kamu suka desain, coba upload hasil desainmu. Kalau suka menulis, bagikan artikel atau opini yang menarik.

Personal branding yang kuat bisa membuka banyak peluang kerja, freelance, bahkan networking dengan profesional lain.

Freelance Bisa Jadi Langkah Awal

Kalau belum mendapatkan pekerjaan full time, bukan berarti harus diam saja. Saat ini peluang freelance semakin besar dan banyak diminati Gen Z.

Ada banyak platform freelance yang menyediakan pekerjaan seperti desain, penulisan artikel, editing video, penerjemahan, admin media sosial, hingga programming. Selain bisa menghasilkan uang, freelance juga membantu menambah pengalaman dan portofolio kerja.

Pengalaman freelance sering kali jadi nilai tambah saat melamar pekerjaan karena menunjukkan bahwa kamu aktif dan punya kemampuan yang bisa digunakan di dunia kerja.

Pelajari Tren Dunia Kerja

Salah satu kesalahan banyak job seeker adalah melamar pekerjaan tanpa memahami kebutuhan pasar kerja. Padahal tren industri terus berubah.

Sebagai bonus informasi, ada beberapa industri yang sekarang ini sedang gencar-gencarnya mencari tenaga kerja yaitu digital marketing, content creator, desainer UI/UX, data analyst, keamanan cyber, pengembang perangkat lunak, spesialis sosmed, dan video editor.

Kamu bisa mendapatkan pekerjaan lebih cepat jika kamu fokus kepada skill yang berhubungan dengan pekerjaan di atas.

Networking Adalah Tali Pengaman Kamu Dalam Karir

Kadang peluang kerja datang bukan hanya dari job portal, tapi juga dari koneksi. Karena itu, jangan malas membangun networking.

Ikut seminar, komunitas, workshop, atau event karier bisa membantu kamu bertemu banyak orang baru. Dari sana, bukan tidak mungkin kamu mendapatkan informasi lowongan kerja lebih cepat.

Networking juga membantu kamu memahami kondisi industri dan belajar langsung dari orang-orang yang sudah berpengalaman.

Jangan Takut Memulai Usaha Sendiri

Tidak semua orang harus bekerja di perusahaan. Kalau punya ide bisnis atau kemampuan tertentu, mencoba usaha kecil-kecilan juga bisa jadi pilihan.

Sekarang memulai bisnis jauh lebih mudah karena ada media sosial dan marketplace. Banyak Gen Z sukses membangun usaha dari rumah, mulai dari jualan online, jasa desain, makanan, thrift shop, sampai bisnis digital.

Memang tidak langsung besar, tapi usaha kecil bisa menjadi sumber penghasilan sekaligus pengalaman berharga.

Platform Lowongan Kerja Adalah Salah Satu Jalan Utama

Saat mencari kerja, jangan hanya mengandalkan satu platform. Gunakan berbagai aplikasi dan website lowongan kerja seperti JOOB dan aplikasi sejenis agar peluangmu lebih luas.

Selain itu, pastikan CV yang kamu buat menarik dan relevan dengan posisi yang dilamar. Banyak job seeker gagal dipanggil interview karena CV terlalu umum atau tidak sesuai kebutuhan perusahaan.

Kata kunci ini penting karena beberapa perusahaan menggunakan sistem ATS (Applicant Tracking System) untuk menyeleksi CV secara otomatis.

Tetap Konsisten dan Pantang Menyerah

Mencari pekerjaan di Indonesia itu susahnya bukan main. Apalagi di tengah tingginya angka pengangguran Gen Z saat ini. Tapi jangan sampai kehilangan semangat hanya karena beberapa kali ditolak.

Banyak orang sukses juga pernah mengalami fase sulit saat mencari kerja. Yang penting adalah terus belajar, memperbaiki kemampuan, dan tetap konsisten mencoba.

Daripada terus overthinking soal susahnya cari kerja, lebih baik fokus meningkatkan value diri. Ketika skill dan pengalamanmu berkembang, peluang kerja juga akan datang dengan sendirinya.

Pada akhirnya, kondisi 10 juta Gen Z menganggur memang jadi tantangan besar bagi Indonesia. Namun, ini juga bisa jadi momentum bagi anak muda untuk lebih kreatif, adaptif, dan berani mengambil peluang baru di dunia kerja digital yang terus berkembang.