@2025 Official Blog of Grab Joob
Satu Menit Baca

Saat mendengar istilah keberagaman di tempat kerja, sebagian orang mungkin langsung membayangkan karyawan dengan latar belakang gender, usia, atau suku yang berbeda-beda. Namun kenyataannya, konsep keberagaman atau diversity ini lebih dari itu.

Keberagaman juga mencakup perbedaan pendidikan, pengalaman hidup, kondisi sosial ekonomi, kemampuan fisik, cara berpikir, hingga pendekatan seseorang dalam menyelesaikan masalah.

Dengan kata lain, perusahaan yang beragam bukan sekadar memiliki orang-orang yang terlihat berbeda. Perusahaan juga memberi ruang bagi berbagai perspektif untuk terlibat dalam pekerjaan dan pengambilan keputusan.

Apa Itu Keberagaman di Tempat Kerja?

workplace diversity menggambarkan keberadaan orang-orang dari berbagai latar belakang, identitas, dan pengalaman dalam sebuah organisasi. Keberagaman tersebut tidak hanya bersifat demografis, tetapi juga mencakup cognitive diversity atau perbedaan cara berpikir dan memecahkan masalah.

Dalam praktiknya, pembahasan mengenai diversity juga sering berkaitan dengan istilah DEI atau DEIB.

Diversity berbicara tentang siapa saja yang berada dalam perusahaan. Equity berkaitan dengan kesempatan yang adil. Inclusion memastikan bahwa setiap orang punya kesempatan berpartisipasi dan didengar. Sementara belonging menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa diterima dan nyaman menjadi dirinya sendiri di lingkungan kerja.

Keempat hal tersebut saling berhubungan. Memiliki tim yang beragam saja belum cukup apabila hanya sebagian karyawan yang benar-benar mendapatkan kesempatan untuk berbicara atau berkembang.

Mengapa Keberagaman Penting bagi Perusahaan?

Tim yang terdiri dari orang dengan pengalaman dan cara berpikir berbeda berpotensi menghasilkan lebih banyak perspektif ketika menghadapi suatu masalah.

Bayangkan sebuah perusahaan sedang membuat produk untuk konsumen dari berbagai usia dan latar belakang. Jika semua anggota tim memiliki pengalaman hidup yang hampir sama, ada kemungkinan kebutuhan kelompok tertentu tidak terpikirkan. Karena semuanya memiliki perspektif yang hampir sama.

Sebaliknya, keberagaman perspektif dapat membantu tim melihat masalah dari lebih banyak sisi.

Penelitian McKinsey pada 2023 juga menemukan hubungan antara keberagaman dalam jajaran pimpinan dengan performa perusahaan. 

Perusahaan di kuartil teratas dalam keberagaman gender pada tim eksekutif memiliki kemungkinan 39% lebih tinggi untuk mencatatkan kinerja finansial di atas rata-rata dibandingkan perusahaan di kuartil terbawah. 

Namun demikian, hubungan tersebut tidak berarti diversity sendirian otomatis menghasilkan performa lebih baik. Budaya dan pengelolaan yang inklusif tetap menjadi faktor penting untuk mewujudkan hal tersebut.

Keberagaman Juga Perlu Diikuti Inclusion

Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah perusahaan terlalu fokus mengejar angka keberagaman dalam proses recruitment.

Misalnya, perusahaan berhasil merekrut karyawan dari berbagai latar belakang. Namun, setelah masuk, mereka tidak mendapatkan kesempatan yang sama dalam proyek, promosi, atau pengambilan keputusan.

Artinya, diversity sudah ada, tetapi inclusion belum benar-benar berjalan sebagaimana mestinya.

Lingkungan kerja inklusif seharusnya memberi kesempatan kepada setiap karyawan untuk menyampaikan ide, mendapatkan akses pengembangan karier, dan menyampaikan masalah tanpa merasa takut.

Adakah Cara Perusahaan Agar Dapat Mendorong Keberagaman?

Sebetulnya ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan perusahaan. Salah satunya adalah memastikan proses recruitment memiliki standar yang jelas sehingga kandidat dinilai berdasarkan kompetensi yang dibutuhkan. Selain recruitment, perusahaan bisa melakukan evaluasi kesetaraan gaji, menyediakan program mentoring, membangun komunitas internal karyawan, serta memastikan benefit perusahaan dapat mengakomodasi kebutuhan tenaga kerja yang beragam.

Ingat, Diversity Itu Tidak Hanya Angka

Pada akhirnya, keberagaman di tempat kerja bukan sekadar tentang berapa banyak kelompok berbeda yang berhasil direkrut perusahaan. 

Hal yang lebih penting dan menjadi sebuah pertanyaan yang wajib dijawab adalah “apakah setiap orang memiliki kesempatan yang adil untuk berkontribusi, berkembang, dan menyampaikan perspektifnya?”

Perusahaan yang memiliki banyak orang dari latar belakang berbeda tetapi tidak mendengarkan suara mereka belum tentu bisa disebut benar-benar inklusif.

Karena itu, diversity perlu berjalan bersama equity, inclusion, dan belonging. Ketika keempatnya diterapkan dengan baik, perusahaan tidak hanya memiliki tenaga kerja yang lebih beragam, tetapi juga menciptakan lingkungan di mana perbedaan dapat menjadi sumber ide, inovasi, dan cara baru dalam memecahkan masalah yang datang menghampiri.